Dampak Gangguan Kronis pada Anak terhadap Kesehatan Mental Orang Tua

 



Gangguan kronis (chronic disorders) merupakan gangguan atau penyakit yang sudah diderita seseorang dalam kurun waktu yang cukup lama. Anak-anak yang menderita gangguan kronis, seperti mengalami keterlambatan perkembangan diri, gangguan fisik, ataupun gangguan psikologis, yang merupakan penyakit bawaan sebelum menginjak usia 18 tahun seringkali membutuhkan dukungan dan perawatan khusus. Kebutuhan perawatan khusus ini juga bisa berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental orang tua.

Salah satu hasil studi di Amerika menunjukkan tingkat depresi dan kecemasan orang tua dari anak-anak dengan gangguan kronis lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua dari anak-anak tanpa gangguan kronis. Akhirnya, kesehatan mental orang tua juga perlu diselidiki karena adanya dampak jangka panjang dari gangguan kronis.

Untuk membandingkan tingkat kesehatan mental pada orang tua dari anak-anak penderita gangguan kronis dengan kesehatan mental orang tua dari anak-anak tanpa gangguan kronis, maka diadakan penelitian. Penelitian ini menggunakan data dari SIBS-RCT yang bertujuan untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dan saudara kandung dari anak-anak dengan gangguan kronis. Keluarga yang berpartisipasi memiliki anak berusia 0 sampai 18 tahun dengan gangguan kronis. Usia rata-rata anak-anak adalah 10,5 tahun. Usia rata-rata ibu adalah 42,2 tahun. Usia rata-rata ayah adalah 44,5 tahun. Rekrutmen SIBS-RCT dilaksanakan melalui layanan perawatan kesehatan spesialis ataupun organisasi pengguna dan spesialis pusat. Parameter yang diuji dalam penelitian ini adalah kesehatan mental orang tua dan tingkat keparahan gangguan anak yang dirasakan.

Dalam keluarga, peran dan tanggung jawab orang tua sering berbeda. Kualitas lingkungan masyarakat sekitar juga sangat penting, karena dapat membantu untuk membentuk pengalaman dan tanggapan mereka terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh hasil diagnosis anak mereka. Sebagian besar penelitian kesehatan mental orang tua menggunakan ibu sebagai partisipan. Namun dalam kasus ini, para ayah dari anak yang memiliki gangguan kronis menjelaskan jika mereka dapat mengatasi hal ini dengan menahan emosi dan menjadi kuat untuk istri dan keluarga. Hasil penelitian menjelaskan jika terdapat perbedaan signifikan dalam kesehatan mental ayah dan ibu. Peningkatan beban psikologis lebih besar terjadi pada ibu. Hal ini serupa dengan salah satu literatur yang berasal dari USA yang membahas tentang peran dan tanggung jawab gender dalam pengasuhan, yang menyarankan para ibu untuk cenderung memiliki peran sebagai pengasuh utama sehingga lebih rentan terhadap gejala penyakit pada anak. Sedangkan para ayah merasa dianggap sebagai orang tua yang lebih rendah dibandingkan ibu dari segi kualitas. Mereka juga menjelaskan jika mereka menahan penderitaan psikologis supaya tetap tegar demi keluarganya. Perbedaan yang cukup signifikan tersebut bukan berarti mereka memiliki pendirian yang berbeda dalam mengasuh anak, tapi mencerminkan jika persepsi orang tua saat membesarkan anak tidaklah sama. Akhirnya, perbedaan persepsi menyebabkan lebih banyak stres dan meminimalisir dukungan pasangan dalam berkeluarga, sehingga berdampak pada kesehatan mental keduanya.

Pemeriksaan kesehatan mental pada orang tua dari anak-anak dengan gangguan kronis menunjukkan adanya perbedaan tingkat kesehatan mental pada ayah dan ibu. Di mana ibu memiliki beban psikologis lebih banyak dibandingkan ayah yang tetap berusaha kuat untuk keluarganya.

Oleh : Shalsa Putri Cahyani

cr:  (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772628224000797




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal Menyenangkan dari Bulutangkis